Kamis, 23 Juni 2011

Makalah Studi Qur'an

BAB II
PEMBAHASAN
A. Tafsir Fiqhi/ Ahkam
Tafsir fiqhi yang dikenal dengan Tafsir al-Ahkam, pada dasarnya hanya merupakan sebagian saja dari tafsir al-Qur’an secara keseluruhan. Tafsir ahkam merupakan bagian tak terpisahkan dari tafsir-tafsir al-Qur’an pada umumnya.
Keberadaan tafsir ahkam dapat dikatakan diterima oleh seluruh lapisan mufassirin. Tafsir ahkam memiliki usia yang sangat tua, karena lahir bersamaan dengan kelahiran tafsir Al-Qur’an pada umumnya. Jawaban-jawaban Nabi atas pertanyaan-pertanyaan sahabat dikategorikan sebagai tafsir bi al-ma’tsur, juga dikategorikan sebagai tafsir fiqhi. Setelah Nabi wafat , para sahabat menggali sendiri hukum-hukum syara’ dari Al-Qur’an ketika berhadapan dengan permasalahan-permasalahan yang belum pernah terjadi pada masa Nabi. Ijtihad para sahabat pun di samping dikategorikan sebagai tafsir al-ma’tsur juga dikategorikan tafsir fiqhi. Demikian pula ijtihad para tabi’in.
Tafsir fiqhi semakin berkembang seiring dengan majunya intensitas ijtihad. Pada awalnya, penafsiran-penafsiran fiqhi terlepas dari kontaminasi hawa nafsu dan motivasi-motivasi negatif. Hal itu berlangsung sampai periode munculnya mazhab fiqih empat dan yang lainnya. Pada periode ini kaum muslimin dihadapkan dengan masalah yang belum pernah terjadi pada generasi-generasi sebelumnya, sehingga belum ada keputusan hukumnya. Ketika menghadapi masalah ini, setiap imam mazhab berijtihad dibawah naungan Al-Qur’an, sunnah, dan sumber-sumber penetapan hukum islam lainnya. Mereka lalu berhukum dengan hasil ijtihadnya yang telah dibangun atas berbagai dalil.
Setelah periode ini muncullah para pengikut imam-imam mazhab. Diantara mereka terdapat orang-orang yang fanatik terhadap mazhab yang dianutnya. Ketika memahami Al-Qur’an , mereka menggiringnya agar sesuai dengan mazhab yang mereka anut. Namun diantara mereka ada yang tidak fanatik dengan mazhab yang mereka anut, mereka memahami Al-Qur’an dengan menggunakan pemikiran yang bersih dari kecenderungan hawa nafsu. Mereka bahkan memahami dan menafsirkannya atas dasar makna-makna yang mereka yakini benarnya.
Setiap mazhab dan golongan tersebut berupaya dan berusaha menakwilkan Al-Qur’an sehingga dapat dijadikan dalil atas kebenaran mazhabnya, dan berupaya menggiring ayat-ayat Al-Qur’an sehingga sejalan dengan paham teologi masing-masing. Tafsir fiqhi ini banyak ditemukan dalam kitab-kitab fiqih karangan imam-imam dari berbagai kalangan mazhab.
Al-Tafsir al-Fiqhi ini tersebar luas di celah-celah halaman berbagai kitab fikih yang dikarang oleh tokoh berbagai mazhab. Terutama setelah masa kodifikasi, banyak ulama menulis karya tafsir semacam ini sesuai dengan pandangan mazhab mereka.
Contoh kitab tafsir ahkam :
Pada ahli sejarah tafsir pada umumnya menobatkan Ibn Jarir al-Thabari (224-310 H), sebagai mufassir pertama yang menyusun kitab tafsir dalam bentuk buku teks atau tulisan ilmiah. Ketika menafsirkan ayat 8 surat al-Nahl (16) misalnya :
          
Artinya : Dan (Dia Telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya. (al-Nalh 16)
AL-Thabari memaparkan pendapat para ulama berikut argumentasi masing-masing tentang hukum memakan daging kuda, bagal (campuran kuda dan keledai) dan daging keledai. Diantata pendapat itu ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan. Al-Thabari sendiri menyatakan pilihannya untuk mendukung pendapat yang menghalalkan daging kuda dan keledai, juga daging bagal yakni hewan campuran antara kuda dan keledai. Diantara kitab-kitab tafsir yang bercorak fiqhi ini adalah :
a. Ahkam al- Qur’an al-Jash-shas Kitab tafsir ahkam yang tergolong tua ini terdiri atas tiga jilid, dengan halaman secara keseluruhan masing-masing 540 halaman jlid 1 (diluar daftar isi), 494 halaman jilid 2 dan 479 halaman untuk jilid 3 yang tanpa halaman daftar isi. Kitab ini disusun oleh al-Imam Hujj al-Islam Abi Bakr Ahmad bin Ali al-Razi al-Jashshash (305-370 H), salah seorang ahli fikih dari kalangan Mazhab Hanafi.
b. Ahkam al- Qur’an,Ibn al-Arabi
Kitab yang terdiri atas empat jilid dengan tebal 2.159 halaman, ini merupakan karya monumental Abi Bakar Muhammad bin Abdillah, yang lazim populer dengan sebutan Ibn al-Arabi (468-543 H). Kitab Ahkam al-Qur’an (Hukum-hukum al-Qur’an ) ini menafsirkan sekitar 767 ayat hukum dari 114 surat yang ada dalam al-Qur’an.
c. Ahkam al-Qur’an al-Kiya al-Harasi
Menurut informasi yang diberikan al-Dzahabi, dari kalangan mazhab Syafi’I ada ulama terkenal yang menulis Ahkam al-Qur’an (Hukum-hukum al-Qur’an), yaitu al-Kiya al-Harasi (w. 450 H), salah seorang berkebangsaan Khurasan . Hanya saja, karena tulisannya dalam bentuk diktat (makhtuth) yang belum dibukukan, maka karya al-Kiya al-Harasi ini agaknya tidak beredar seperti seperti kitab-kitab tafsir ahkam yang lain.
c. Al-Jami’ li - ahkam al-Qur’an
Tafsir yang juga dikenal dengan sebutan Tafsir al-Qurthubi ini judul lengkapnya adalah: al-Jami ‘li-Ahkam al-Qur’an wa al-mubayyin lima Tadhammanahu min al-Sunnah wa-Ayi al-Qur’an (Himpunan hukum-hukum al-Qur’an dan Penjesalan Terhadap isi Kandungannya dari al-Sunnah dan Ayat-ayat al-Qur’an), tergolong ke dalam salah satu kitab tafsir yang sangat tebal, dengan rupa-rupa jilid. Ada yang sepuluh jilid tebal, dan ada pula yang terdiri dari atas 22 jilid dengan jumlah halaman sekitar 7.723. Pengarangnya adalah Abi Abdillah Muhammad al-Qurthubi (w.671 H), salah seorang ulama yang sangat produktif di masanya.
d, Tafsir Fath al-Qadir
Karya besar Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Abdullah al- Syawkani (1173-1250 H ). Yang pernah menjadi hakim agung ini sangat dalam pengetahuannya tentang ayat-ayat hukum dan hadist ahkam.
e. Tafsir al-Maraghi
Sungguhpun nama kitab Tafsir al-Maraghi yang terdiri atas 10 jilid dengan tebal halaman sekitar 3.727 itu tidak mencerminkan judul khas tafsir ahkam, tetapi latar belakang keilmuan dan lingkungan kerja Ahmad Mushthafa al-Maraghi adalah sangat kental dengan ilmu-ilmu syari’ah. Ia adalah guru Besar Syari’ah Islam dan bahasa Arab di Dar al-Ulum-Mesir.
f. Tafsir Ayat al-Ahkam
Kitab ini pada mulanya diktat yang disusun oleh Muhammad Ai al-Sayis (1319-1396 H/1899-1976 M). Kitab Tafsir Ayat al-Ahkam (Tafsir Ayat-ayat Hukum) susunan Ali al-Sayis ini relatife tidak tebal jika dibandingkan dengan buku-buku ahkam yang lain. Kitab ini hanya satu jilid dengan tebal 814 halaman.
g. Rawai’ al-Bayan Tafsir Ayat al-Ahkam
Kitab ini terdiri atas dua jilid, dengan tebal halaman masing-masing 627 dan 637 halaman. Disusun oleh Muhammad Ali al-Shabuni, salah seorang guru besar Fakultas Syari’ah di Jami’ah Umm al-Qur’an Makkah al-Mukarramah.
h. Tafsir Ayat al-Ahkam
Dr. Ahmad Muhammad al-Hashri ini, memuat ayat-ayat hukum tentang ibadah, muamalah, uqubah dan hukum-hukum keluarga (al-ahwal al-syakhshiyyah). Kitab ini terdiri atas 461 halaman.
i. Al-Tafsir al-Munir
Tafsir yang membahas masalah-masalah Akidah, Syari’ah dan Metodologi, yang terdiri atas 16 jilid, dan masing-masing jilid terdiri atas dua juz dengan tebal halaman 10.317. Kitab ini merupakan karya terbesar Wahbah al-Zuhayli,, guru besar hukum Islam dan ketua jurusan al-Fiqh al-Islmi wa-Madzahibuh pada Universitas Damsyiq-Syria.
B. Tafsir Falsafi
Tafsir Falsafi adalah penafsiran Al-Qur’an berdasarkan pendekatan logika atau pemikiran
filsafat yang bersifat liberal dan radikal. Tafsir Falsafi juga bisa diartikan dengan penafsiran Al-Qur’an dengan upaya untuk menggabungkan antara pemikiran filsafat dan agama. Ilmu filsafat tidak diketahui orang-orang Islam sebelum masa bani Abbasiyah pertama (132-232 11/ 750-847 M). Ilmu ini ditransfer kedunia Islam melalui penerjemahan buku-buku filsafat Yunani yang tersebar di daerah-daerah Laut Putih, Iskandariah, Anthakiah, dan Harran.
Tokoh-tokoh islam yang membaca buku-buku falsafat tersebut terbagi kepada dua golongan :
1. Golongan yang menolak falsafat karena mereka menemukan adanya pertentangan antara falsafat dan agama. Kelompok ini secara radikal menentang falsafat dan berupaya menjauhkan umat darinya. Tokoh pelopor kelompok ini adalah al-Imam al-Ghazali dan al-Fakr al-Razi. Tokoh yang disebut terakhir ini, di dalam karya tafsirnya, membeberkan ide-ide falsafat yang dipandang bertentangan dengan agama, khususnya dengan Al-Qur’an, dan akhirnya ia dengan tegas menolak falsafat berdasar alasan dan dalil yang ia anggap memadai.
2. Golongan yang mengagumi dan menerima falsafat, meskipun di dalamnya terdapat ide-ide yang bertentangan dengan nash-nash syara’. Kelompok ini berupaya mengkompromikan atau mencari titik temu antara falsafat dan agama serta berusaha untuk menyingkirkan segala pertentangan. Namun usaha mereka ini belum berhasil mencapai titik temu yang terakhir, melainkan masih berupa usaha pemecahan masalah secara setengah-setengah.
Pada masa Harun Al-Rasyid lebih diutamakan penerjemahan filsafat Aristoteles dan Persia. Kemudian pada masa Al-Makmun penerjemahan lebih aktif lagi dan disertai dengan mengirim tim-tim ke negara-negara tetangga seperti Cyprus dan Romawi untuk mendapatkan buku-buku filsafat. Kemudian lahirlah filsuf-filsuf muslim yang terkenal, yang kemudian menulis buku dalam Khazanah keilmuan dalam berbagai cabang, seperti kedokteran, logika, astronomi dan lainnya. Diantaranya adalah, Al-Kindi, Al-Farabi dan Ibnu Sina:
1. Tema-tema penafsiran dengan kecenderungan filsafat
Karena filsafat merupakan cabang dari ilmu pengetahuan dan mempunyai objek kajian tertentu yang berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya. Tafsir dengan kecenderungan filsafat mempunyai objek yang tidak lepas dari pengaruh dari objek kajian filsafat itu sendiri. Menurut C.A. Qadir, objek kajian tersebut antara lain berikut ini :
a. Masalah doktrin monteisme atau keesaan Allah. Menurut doktrin ini, Allah adalah pencipta Alam semesta yang tidak berawal dan tidak berakhir, tidak berubah, Maha tahu, Maha kuasa , satu-satunya yang disembah. Hal ini berdasarkan Al-Qur’an dan Hadits.
b. Masalah yang sangat penting adalah menyangkut kenabian, yang menyangkut sebagai sifat dasar dan cirri-ciri kesadaran, perbedaan dan kemiripannya dengan kesadaran mistik, logika atau kesadaran keagamaan, dan masalah-masalah yang berkaitan dengannya.
c. Masalah penyelesaian antara filsafat dan agama. Para filosof berpendapat bahwa pada tingkat akhir, hasil pemikiran filsafat tidak bertentangan dengan agama karena kedua-duanya bersumber pada hakikat terakhir yang sama.
2. Metodologi tafsir dengan kecenderungan falsafi
Dari objek kajian dan prinsip kefilsafatan ini, dapat dilihat bahwa dalam metodologi penafsiran dari mazhab tafsir yang berkecenderungan filsafat ini, terdapat upaya penggabungan antara filsafat dan agama atas dasar penakwilan teks-teks agama pada makna-makna yang sesuai dengan filsafat, yang filosofis, yang dimulai perenungan atas sejumllah fenomena lainnya dengan memperhatikan pertimbangan-pertimbangan ayat Al-Qur’an . Dengan kata lain, dapat dikatakan, mendahulukan pertimbangan logika kemudian diteruskan dengan melihat norma syari’at, yaitu Al-Qur’an.
3. Contoh penafsiran dalam kecenderungan Filsafat
•   
Artinya : Dan tumbuh-tumbuhan dan pohon-pohonan kedua-duanya tunduk kepada nya.
(Ar-Rahman :6)
Kata “sujud” pada ayat tersebut dengan makna tunduk pada ketentuan Illahi. Karena secara lahir, kata sujud bagi binatang dan pohon tidak mungkin terlihat pada sujud ketika shalat bagi manusia. Dengan demikian harus diakui bahwa benda-benda mempunyai daya hidup. Sedangkan kehidupan merupakan indikasi adanya kematian atau kehancuran yang terjadi pada suatu saat. Karena makhluk rasional lebih unggul ketimbang yang irasional. Padahal benda-benda tidak mempunyai akal, batas kecerdasan benda-benda itu termasuk benda itu sendiri, haruslah lebih rendah dari manusia.
Menurut Quraish Shihab, medan filsafat alam objek penafsirannya hanya sekitar hal yang menyangkut keyakinan (tauhid, aqidah, atau teologi). Oleh karena itu, terjadi bias-bias yang terkadang mengarah kepada tercerabutnya konsep tauhid terutama dari Mu’tazilah dan orang yang masuk Islam yang sekat-sekat keyakinan lamanya masih kuat dan terbawa pada ketauhidan Islam. Dengan tafsir yang bersifat falsafi ini, akidah menjadi cacat, Fasad, dan sekedar menjadi bahan perbincangan yang membuat pro dan kontra.

DI BALIK KEINDAHAN TAJ MAHAL

DI BALIK KEINDAHAN TAJ MAHAL


Sebenarnya ia hanya sebuah monumen. Dibangun selama 22 tahun oleh Shah Jehan sebagai musoleum untuk mengenang istri tercintanya Mumtaz ul Zamani yang lebih dikenal sebagai Mumtaz Mahal. Sebuah arsitektur atas nama cinta yang menjadi satu bangunan terindah di dunia.

Seusai dengan maksudnya, bangunan itu pun disebut sebagai Taj Mahal. Letaknya di Agra, India kawasan Uttar Paradesh. Persis di tepian Sungai Yamuna. Pembangunannya melibatkan 20.000 pekerja, arsitek paling ahli, seniman ahli kerajinan tangan, sejumlah ahli kaligrafi, pemahat, ahli batu dari seantero India, Persia, dan Turki. Dibangun dengan presisi, emosi, seni arsitektur mengagumkan.

Bangunan itu berawal dari sebuah janji. Berpangkal dari tahun 1631, saat Mumtaz Mahal terbaring sekarat di sisi suaminya Shah Jehan, setelah melahirkan anak ke-14 bagi sang raja. Perempuan itu menagih empat janji dari sang raja. Pertama memohon dibangunya sebuah Taj, kedua memintanya tidak kimpoi lagi, ketiga menuntut perlakuan baik suaminya pada anak-anak mereka, dan terakhir memintanya untuk mengunjungi makamnya secara teratur. Tak lama kemudian Mumtaz mahal pun meninggal.

Shah Jehan sangat terpukul dengan kematian istrinya, namun ia segera mewujudkan janji bagi sang istri tercinta. Maka ia memerintahkan pembangunan sebuah Taj pada 1631. Selama 2 tahun Shah Jehan mengurung diri dan berkabung. Lantas pada 1633, ia akhirnya menekankan pembangunan sebuah makam bagi istrinya di dalam bangunan yang sedang dikerjakan itu.

Lambang Cinta
Mengapa disebut lambang cinta? Mari kita mundur ke tahun yang lebih awal. Shah Jehan, awalnya bernama Khurrum Shihab-ud-din Muhammad, merupakan pangeran dari Dinasti Mughal. Ia lahir dari 1592 di Lahore, dan menjadi putra ketiga yang paling disayang kaisar Jahangir. Ia diplot sang kaisar untuk menggantikannya kelak, dan ia pun dididik secara khusus termasuk dalam bidang budaya, pengetahuan, dan seni beladiri serta kemiliteran.

Di usia 16 tahun ia mengejutkan ayahnya dengan desain markasnya di dalam benteng Kabul dan mendesain ulang benteng Agra, setelah diberi wewenang oleh sang ayah untuk memimpin sejumlah pasukan. Ia kemudian menikah dengan Akbarabadi Mahal menyusul istri kedua Kandahari Mahal. Tetapi cinta sejati justru berkembang saat ia jatuh hati pada gadis belia 14 tahun Arjumand Banu Begum, cucu bangsawan Persia.

Ia terpaksa menunggu selama lima tahun sebelum diizinkan menikahi gadis menawan itu pada 1612. Dan seusai pesta pernikahan yang megah itu, istri ketiganya itu diberi julukan Mumtaz Mahal Begum. Mumtaz Mahal justru menjadi istri yang paling disayang dan dimanjakannya. Begitupun sang istri ini selalu menemaninya dalam setiap penugasan ke luar daerah. Setia menemani di dalam istana, maupun di tenda-tenda dalam perjalanan sang pangeran. Cinta kedua anak manusia ini memang sangat romantis, intim, dan harmonis.

Dalam misi tempur dari sang ayah, pada 1617, Khurram berkat dampingan Mumtaz, berhasil menaklukkan Lodi di Decan, serta mengamankan wilayah perbatasan selatan kerjaan dinasti Mughal. Untuk itu ia dianugerahi gelar “Shah Jehan Bahadur” oleh sang ayah. Gelar yang memastikannya akan menduduki tahta dinasti kelima Mughal.

Sejak Shah Jehan masih menjadi pangeran dan panglima perang, Mumtaz Mahal memang selalu mendampinginya dalam keadaan senang maupun susah, suka dan duka. Kisah cinta mereka tersiar di kalangan prajurit dan rakyat. Sampai akhirnya ketika menggantikan posisi ayahnya sebagai raja, Mumtaz Mahal selalu setia pada Shah Jehan.

Semua kisah cinta itu tak terlupakan oleh Shah Jehan sampai akhir hayatnya. Ketika ang istri meninggal, ia pun merasa amat terpukul. Namun semua kenangan akan cinta sejatinya dituangkan dalam pembangunan Taj Mahal. Selama 22 tahun (sejak 1631) sampai 1653, keseluruhan Taj Mahal rampung dibangun.

Bangunan setinggi hampir 60 meter itu dibuat dengan basis batu marmer dan beberapa bagiannya diberi ukiran, hiasan, dan lapisan emas, perak, dan berlian. Semua mata takjub dan berdecak kagum. Melihat Taj Mahal, semua orang yakin bahwa tak ada bangunan lain yang mampu menandingi keindahannya. Benar-benar wujud cinta yang paling dalam. Hingga ajalnya di tahun 1666, Shah Jehan pun dimakamkan di samping makam istrinya di dalam Taj Mahal. Menjadi lambang cinta sejati, hingga hari ini…

Taj Mahal dalam Mitos
Taj Mahal memang mengandung nuansa berbeda. Banyak kontroversi yang melambung dari sana. Mungkin karena aura dan keindahan bangunan tersebut memang mampu memengaruhi emosi pengunjungnya.

Jean-Baptiste Travernier mungkin menjadi “turis” Eropa pertama yang mengunjungi Taj Mahal. Dari kunjungannya tahun 1665, ia menuliskan bahwa kemungkinan Shah Jehan berencana membangun Taj Mahal dengan marmer hitam. Namun Shah Jehan mungkin sudah digantikan anaknya Aurungzeb sebelum Taj Mahal dibangun. Sehingga akhirnyadibuat dengan marmer putih.

Sisa-sisa marmer hitam masih terlihat di seberang sungai di Moonlight Garden, Mahtab Bagh, yang tampaknya mendukung versi legenda ini. Namun hasil penelitian dan penggalian di sana pada 1990 menemukan bahwa marmer itu adalah marmer putih yang berubah warna menjadi hitam. Teori tersebut juga sudah diuji coba pada 2006 di lokasi tersebut dan membuktikan bahwa marmer yang digunakan adalah memang marmer putih dan bukan hitam.

Masih banyak lagi mitos dan kontroversi soal Taj Mahal. Termasuk keraguan apakah Taj Mahal memang dibangun khusus untuk mengenang kisah cinta Shah Jehan bagi sitrinya Mumtaz Mahal, atau lebih daripada itu yaitu merupakan refleksi cinta yang lebih murni dalam konsep spiritual ilahi. Atau sekadar propaganda dinasti Mughal untuk menunjukkan kajayaan mereka semata? Belum ada yang bisa memastikan.

Bangunan yang mengusung konsep simetris itu merupakan satu pertanyaan lain. Lalu penataan kolam dan refleksi langsung Taj Mahal di atas air menjadi bahan perdebatan lainnya.

Seribu satu pertanyaan masih mengantung di seputar Taj Mahal…

Keindahan Mengagumkan yang Misterius
Taj Mahal mewakili arsitektur mewah yang terbaik dari dinasti Mughal. Aslinya mencerminkan perpaduan budaya dan sejarah kekasiran Islam Mughal yang pernah menguasai India. Walau bentuknya mirip tampilan fisik bangunan masjid, namun sesungguhnya ia merupakan sebuah makam penghormatan.

Taj Mahal Mudah dikenali dari ciri kubah putih marmer, tatanan kompleksnya dan areal taman di lahan seluas 22,44 hektar. Termasuk aea makam tambahan, infrastruktur pengairan, kota kecil Taj Ganji dan taman bulan purnama di utara sungai.

Dalam catatan sejarah Taj mahal masih diliputi kabut misteri. Masih tidak diketahui secara pasti latar belakang berdirinya kompleks Taj Mahal, walau diyakini sebagai persembahan cinta Shah Jehan terhadap istrinya Mumtaz Mahal.

Begitu juga dengan arsitek utama yang merancang bangunan tersebut. Ada yang menduganya adalah arsitek India, Persia, bahkan Italia. Yang pasti bahwa pembangunannya melibatkan kolaborasi sejumlah seniman, ahli, dan perajin dari berbagai daerah.

Namun sejumlah penelitian merujuk bahwa sang arsitek utama yang misterius itu kemungkinan besar adalah seorang Italia. Seseorang yang bernama Geronimo Veroneo. Dugaan muncul berdasarkan pernyataan Father Manrique, seorang Augustinian Friar, yang berkunjung ke Agra pada 1640 dalam upaya menjemput Father Antony yang akan dibebaskan dinasti Mughal dari penjara.

Namun kesaksian ini justru sangat ditentang oleh banyak orang yang meragukan ada seniman besar Italia di abad ke 17 yang berada di India. Namun sejumlah makam Kristen Padres Santos di Agra memang menjadi satu bukti bahwa orang Eropa sudah berada di Agra saat pembangunan Taj Mahal dan masa sesudahnya.

Satu kemewahan lain dari Taj Mahal adalah pengguaan materialnya yang didatangkan dari seluruh India dan Asia. Dindingnya dibentuk dengan potongan batu marmer dan batu pasir dalam teknik konstruksi pengunci besi. Seribuan gajah digunakan sebagai pengangkut material itu.

Untuk memenuhi kebutuhan batu pasirnya, didatangkan dari tambang di dekat Fatehour Sikri, lalu marmer putihnya dari Raja Jai Singh di Makrana, Rajasthan. Permata jasper berasal dari Punjab, permata jade dan kristal dari Tiongkok. Permata pirus dari Tibet, batu lapis Lazuli dari Afghanistan, batu safir dari Srilanka dan carnelian dari Arabia. Setidaknya ada 28 jenis batu permata yang digunakan sebagai penghias Taj Mahal.

Semua informasi detail mengenai pembangunan Taj Mahal memang masih terselubung. Entah mengapa bangunan yang belakangan ini tetap menjadi satu dari tuiuh keajaiban dunia modern (yang baru) itu, masih menyimpan rahasia besar. Namun nilai seni, sejarah, budaya dan filosofinya yang memang sarat akan tafsir, tetap menjadi satu warisan perdaban manusia. Sejak 1983, Taj Mahal sudah menjadi salah satu Situs Warisan Dunia yang ditetapkan UNESCO.

Tafsir ayat pendidikan

A. PENDAHULUAN
Al-Qur’an merupakan wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan merupakan kalamullah yang mutlak kebenarannya, berlaku sepanjang zaman dan mengandung ajaran dan petunjuk tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia di dunia dan akhirat kelak. Ajaran dan petunjuk tersebut amat dibutuhkan oleh manusia dalam mengarungi kehidupannya.
Namun demikian al-Qur’an bukanlah kitab suci yang siap pakai dalam arti berbagai konsep yang dikemukakan al-Qur’an tersebut, tidak langsung dapat dihubungkan dengan berbagai masalah yang dihadapi manusia. Ajaran al-Qur’an tampil dalam sifatnya yang global, ringkas dan general sehingga untuk dapat memehami ajaran al-Qur’an tentang berbagai masalah tersebut, mau tidak mau seseorang harus melalui jalur tafsir sebagimana yang dilakukan oleh para ulama’.
Salah satu pokok ajaran yang terkandung dalam al-Qur’an adalah tentang kewajiban belajar mengajar, yang dalam hal ini akan membahas tentang Surat al-Ankabut ayat 19 – 20.
B. PEMBAHASAN
1. Surat al-Ankabut ayat 19 – 20.
أَوَلَمْ يَرَوْا كَيْفَ يُبْدِئُ اللَّهُ الْخَلْقَ ثُمَّ يُعِيدُهُ إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
قُلْ سِيرُوا فِي الأرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ ثُمَّ اللَّهُ يُنْشِئُ النَّشْأَةَ الآخِرَةَ إِنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
19. Dan apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian mengulanginya (kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
20. Katakanlah: “Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Allah SWT berfirman, menceritakan kisah Nabi Ibrahim a.s. bahwa Ibrahim memberi petunjuk kepada kaumnya untuk membuktikan adanya hari bangkit yang mereka ingkari melalui apa yang mereka saksikan dalam diri mereka sendiri. Yaitu bahwa Allah SWT menciptakan yang pada sebelumnya mereka bukanlah sesuatu yang disebut – sebut ( yakni tiada ). Kemudian mereka ada dan menjadi manusia yang dapat mendengar dan melihat. Maka Tuhan yang memulai penciptaan itu mampu mengembalikannya menjadi hidup kembali, dan sesungguhnya mengembalikan itu mudah dan ringan bagi-Nya.
Kemudian Ibrahim memberi mereka petunjuk akan hal tersebut melalui segala sesuatu yang mereka saksikan di cakrawala, berupa berbagai macam tanda – tanda kekuasaan Allah yang telah menciptakan-Nya. Yaitu langit dan bintang – bintang yang ada padanya, baik yang bersinar maupun yang tetap beredar. Juga bumi serta lembah – lembah, gunung – gunung yang ada padanya, dan tanah datar yang terbuka dan hutan – hutan, serta pepohonan dan buah – buahan, sungai – sungai dan lautan, semua itu menunjukkan statusnya sebagai makhluk, juga menunjukkan adanya yang menciptakannya, yang mengadakannya serta memilih segalanya.
Perintah berjalan kemudian dirangkai dengan perintah melihat seperti firman-Nya ( siiru fi al-ardhi fandhuru ) ditemukan dalam al Qur’an sebanyak tujuh kali, ini mengisyaratkan perlunya melakukan apa yang diistilahkan dengan wisata ziarah. Dengan perjalan itu manusia dapat memperoleh suatu pelajaran dan pengetahuan dalam jiwanya yang menjadikannya menjadi manusia terdidik dan terbina, seperti dia menemui orang-orang terkemuka sehingga dapat memperoleh manfaat dari pertemuannya dan yang lebih terpenting lagi ia dapat menyaksikan aneka ragam ciptaan Allah.
Dengan melakukan perjalanan di bumi seperti yang telah diperintahkan dalam ayat ini, seseorang akan menemukan banyak pelajaran yang berharga baik melalui ciptaan Allah yang terhampar dan beraneka ragam maupaun dari peninggalan – peninggalan lama yang masih tersisa puing – puingnya.
Ayat di atas adalah pengarahan Allah untuk melakukan riset tentang asal usul kehidupan lalu kemudian menjadikannya bukti.
Sebagai tambahan perjuangan mencari ilmu pengetahuan merupakan tugas atau kewjiban bagi setiap muslim baik bagi laki-laki maupun wanita. Menurut Nabi , tinta para pelajar nilainya setara dengan darah para syuhada’ pada hari pembalasan.dengan demikian, para pelaku dalam proses belajar mengajar, yaitu guru dan murid dipandang sebagai ‘‘ orang-orang terpilih’’ dalam masyarakat yang telah termotivasi secara kuat oleh agama untuk mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan mereka.hal ini sejalan dengan ayat al-Qur’an surat al-Taubah ayat 122 yang artinya berbunyi :
وَمَا كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya : Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka Telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.(Q.S.9.122 ).
Sungguh dalam Islam mereka yang tekun mencari ilmu lebih dihargai daripada mereka yang beribadah sepanjang masa. Kelebihan ahli ilmu, al-‘alim daripada ahli ibadah, al – ‘abid, adalah seperti kelebihan Muhammad atas orang Islam seluruhnya. Di kalangan kaum muslimin hadits ini sangat popular sehingga mereka memandang bahwa mencari ilmu merupakan bagian integral dari ibadah.
Dalam Islam, nilai keutamaan dari pengetahuan keagamaan berikut penyebarannya tidak pernah diragukan lagi. Nabi menjamin bahwa orang yang berjuang dalam rangka menuntut ilmu akan diberikan banyak kemudahanoleh Tuhan menuju surga. Para pengikut atau murid Nabi telah berhasil meneruskan dan menerapkan ajaran tentang semangat menuntut dan mencari ilmu. Motivasi religius ini juga bisa ditemukan dalam tradisi Rihla. Suatu tradisi ulama yang disebut al – rihla fi talab al – ‘ilm ‘ Suatu perjalanan dalam rangka mencari ilmu’adalah bukti sedemikian besarnya rasa keingintahuan dikalangan para ulama.
Rihla, tidak hanya merupakan tradisi ulama, tapi juga merupakan kebutuhan untuk menuntut ilmu dan mencari ilmu yang didorong oleh nilai – nilai religius. Hadits – hadits Nabi mebuktikan suatu hubungan tertentu :” Seseorang yang pergi mencari ilmu dijalan Allah hingga ia kembali, ia memeperoleh pahala seperti orang yang berperang menegakkan agama. Para malaikat membentangkan sayap kepadanya dan semua makhluk berdoa untuknya termasuk ikan dan air”.
Islam secara mutlaq mendorong para pengikutnya untuk menuntut ilmu sejauh mungkin, bahkan sampai ke negeri Cina. Nabi menyatakan bahwa jauhnya letak suatu Negara tidaklah menjadi masalah, sebagai ilustrasi unik terhadap kemuliaan nilai ilmu pengetahuan. Siapaun sepakat hadits Nabi yang berbunyi Utlub al ‘ilm walau kana bi al – shin, menekankan betapa pentingnya mencari ilmu lebih – lebih ilmu agama yang dikategorikan Imam Ghozali sebagai fardlu ‘ain.
Disamping Hadits Nabi yang berkenaan dengan al- shin nabi juga menyinggung tentang al – yahud yang mana dikisahkan bahwa Nabi menyuruh sekretarisnya untuk mempelajari kitab al – Yahud sebagai proteksi diri dari penipuan kaum yahudi. Dari kedua hadits tersebut diungkapkan untuk memberi penekananan bahwa terdapat hubungan simbiosis antara ilmu pengetahuan dan dengan kemajuan serta ketahanan peradapan Islam.

Sabtu, 18 Juni 2011

Ramlan in Ramadhan

Menjelang Ramadhan tiba, marilah kita bermaafan dahulu, agar pahala yang kita peroleh dibulan ramadhan tidak setengah-setengah...
Buat temanku Rahmat,jangan sampai tak puaso. Merokok tu kurangkan sikit. Kalau soal honda, jangan lwn shogun, makin terdepan. ingat itu.

Buat cintaku yang telah mengkhianati aku dan diriku, semoga bahagia dengan tunangan mu yang aku pun tak tau rupenye.

Buat sapo lagi ye, (hmm Sjuuuk, kopi semalam).